Event Budaya

Home / Event Budaya
  • Kupatan Durenan

    10 Mei 2022

    Kecamatan Durenan memiliki tradisi setiap tahunnya yaitu perayaan kupatan. Keunikannya, lebaran kupatan ini merupakan lebaran utama dalam tradisi masyarakat Kecamatan Durenan, utama dalam hal ini adalah puncak dari keramain itu sendiri, yang istimewa, dalam lebaran ketupat, hampir setiap rumah warga menyediakan makanan ketupat khas Durenan. Tradisi kupatan adalah sebuah perayaan tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Desa Durenan Kecamatan Durenan Trenggalek. Tradisi kupatan ini dilaksanakan dengan cara open house agar para warga dapat berkunjung kerumah mereka. Saat perayaan kupatan ini, masyarakat Desa Semarum menyiapkan hidangan ketupat lengkap dengan sayur lodeh sebagai hidangan pelengkap dari hidangan ketupat tersebut untuk dihidangkan kepada para tamu yang berkunjung. Tradisi kupatan ini biasanya dilaksanakan pada saat hari kedelapan Hari Raya Idul Fitri, setelah enam hari menjalankan puasa sunnah pada bulan Syawal. Selain sebuah tradisi yang sifatnya turun temurun, perayaan kupatan ini juga merupakan bentuk praktik masyarakat setempat atas ajaran Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan sedekah, memperkuat tali silaturahmi, dan memuliakan tamu supaya menjadikan hidup lebih berkah. Tradisi kupatan ini dilaksanakan rutin setiap satu tahun sekali secara serentak pada saat hari ke delapan hari raya idul fitri.

  • Bersih Dam Bagong

    03 Juni 2022

    Upacara Adat Bersih Dam Bagong diselenggarakan setiap tahunnya pada hari jumat kliwon bulan selo dalam perhitungan kalender orang jawa atau bulan muharam dalam kalender Hijriah. Apabila pada bulan tersebut tidak ada hari jumat kliwon maka pelaksanaanya diselenggarakan pada hari Jumat pon. Upacara bersih Dam Bagong yang biasanya dimulai dari menyembelih kerbau, wayangan dan melabuh kepala kerbau di Dam Bagong yang terletak di belakang makam. Upacara Adat bersih Dam Bagong ini bertujuan untuk mengenang Jasa Ki Ageng Minak Sopal  dalam membangun Dam Bangong sehingga warga masyarakat petani di wilayah 13 Desa meliputi wilayah Kecamatan Trenggalek dan Kecamatan Pogalan menjadi petani sawah yang makmur. Upacara Adat Bersih Dam Bagong ini juga merupakan upacara mengirim doa untuk Ki Ageng Menak Sopal sebagai mubalig yang berjasa dalam menyebarkan ajaran agama islam di sebagian wilayah Trenggalek. Selain itu Upacara Adat Bersih Dam Bagong bagi warga masyarakat sekitar juga dipercaya sebagai ritual tolak bala yang bertujuan menjauhkan warga masyarakat Trenggalek dari segala bentuk marabahaya atau bencana yang mengancam mereka. Menurut kepercayaan masyarakat apabila Upacara Adat Bersih Dam Bagong ini tidak dilaksanakan akan terjadi bencana alam atau marabahaya lain mengancam keselamatan jiwa masyarakat Trenggalek. Karena itu Upacara Adat Bersih Dam Bagong juga sebagai upacara tolak bala dibuktikan dengan adanya pertunjukan wayang ruwatan dengan lakon Murwokolo. Selain yang telah dituliskan diatas Upacara Adat Bersih Dam Bagong juga bertujuan sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan panen selama dalam musim tanam yang telah lewat sekaligus sebagai simbolisasi harapan akan keberhasilan panen pada musim-musim tanam yang akan datang.

  • Longkangan Munjungan

    03 Juni 2022

    Longkangan merupakan upacara adat masyarakat dan nelayan Munjungan. Upacara adat ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, atas melimpahnya tangkapan hasil melaut. Longkangan juga berfungsi peringatan kepada leluhur yang membuka kawasan Munjungan utamanya Rara Puthut yang konon oleh Ratu Pantai Selatan dipercaya menguasai kawasan Pantai Ngampiran, Blado, Sumbreng, dan Ngadipuro Munjungan. Adat Longkangan ini rutin diperingati di Pantai Blado yang terletak di desa Munjungan kecamatan Munjungan. Pantai ini terletak di 49 km arah Selatan dari kota Trenggalek, ± 230 km dari Surabaya.

    Waktu pelaksanaan sedekah laut Longkangan ini dilakukan tiap Selo penanggalan jawa, tepatnya pada hari Jum'at Kliwon. Upacara adat ini biasa dilakukan pada siang hari menjelang sore. Dengan diawali kirab Tumpeng Agung dari Pendopo Kecamatan Munjungan sampai di Pantai Blado yang dipimpin langsung oleh Camat Munjungan dan semua Kepala Desa se Kecamatan Munjungan. Kirab ini diiringi oleh dayang-dayang serta rombongan jaranan yang berpakaian adat Jawa. Sesampainya di Pantai Blado prosesi Longkangan dimulai. Seperti Labuh larung sembonyo, dalam tradisi longkangan ini juga wajib ada kesenian tayub untuk pelengkap prosesi ini.

    Dipastikan setiap Longkangan ini digelar, masyarakat Munjungan dan sekitarnya maupun wisatawan selalu berduyung-duyung menyaksikan upacara adat ini. Baik di sepanjang jalan yang dilewati rombongan kirab maupun dilokasi upacara adat ini. Sebagai puncak acara adat longkangan ini dilakukannya prosesi menghanyutkan Tumpeng Agung di tengah lautan Pantai Blado.

  • Larung Sembonyo Prigi

    13 Juni 2022

    Labuh Laut Larung Sembonyo adalah adat istiadat maupun kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat pesisir daerah Prigi. Larung bersal dari bahasa jawa yang berarti “menghanyutkan” menurut artian adalah meghanyutkan makanan dalam bentuk sesaji (tumpeng) ke laut yang tujuannya adalah rasa syukur nelayan terhadap tangkapan ikan yang melimpah dan permintaan keselamatan bagi nelayan Prigi saat melaut. Tradisi dan budaya yang dilestarikan masyarakat ini lahir dari mitos yang berkembang dan dijalani oleh masyarakat Prigi. Mitos ini menceritaka tentang awal dibukanya kawasan atau orang jawa biasa menyebutnya babad alas teluk Prigi, yang menjadi cikal bakal atau asal usul adanya Upacara Labuh Laut Larung Sembonyo. Masyarakat menyakini bahwa tradisi yang biasa dilakukan pada hari Kliwon bulan Selo dalam penangalan jawa ini merupakan adat budaya yang harus dilestarikan. Proses pelaksanaan tradisi ini dipimpin oleh tokoh adat dan tokoh agama setempat. Tradisi ini diawali dengan malam tirakatanyang diisi dengan sholat hajat,istighosah, dan selamatan, dilanjut keesokan paginya yakni acara puncak dimana sesaji berupa buceng agung yang telah disiapkan tersebut dilarung ke tengah laut lepas (samudera Hindia), malamnya ada pementasan tayub wayang kulit semalam suntuk, dan diakhiri dengan selamatan berharap supaya acara yang telah dilaksanakan kemarin terkabul dan berharap berkah Tuhan Yang Maha Esa.

  • SINONGKELAN

    24 Juni 2022

    "Sinongkelan” merupakan tradisi adat istiadat di Desa Prambon yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan selo hari jumat legi (dalam penanggalan jawa) bersaman dengan perayaan Bersih Desa. Tradisi tersebut diadakan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat desa Prambon atas berkah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan memohon berkah supaya ditahun berikutnya Desa Prambon terbebas dari segala bencana. Rangkaian acara yang dilakukan dalam Bersih Desa Prambon yang pertama yakni, nyadran. Nyadran dimulai dari pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri atau genduren selamatan di makam leluhur. Nyadran pada ritual bersih desa Prambon tersebut dilakukan selama dua hari yang berlangsung pagi hari dan berakhir sebelum adzan dzuhur berkumandang. Sinongkela dimulai sejak dini hari utuk mempersapkan segala macam sesaji berupa lodho ayam kampung, urap-urap, nasi gurih, mule, metri, hingga jerami padi. Persiapan tersebut dilakukan oleh para wanita yang elah lanjut usia atau yang biasa disebut sebagai wanita yang telah luas ari. Setelah semua persiapan selesai selanjutnya para lelaki yang telah lanjut usia atu para sesepuh Desa memulai ritual nyadran di beberapa tempat petilasan atau tempat yang dianggap keramat. Diantaranya ialah makam mbah Budha lanang dan Mbah Budha Wedok, Mbah Canting lanang dan Mbah Canting wedok, Mbah Cokro lanang dan Mbah Cokro wedok, Bukit Slakar,dan Siraman. Malam hari setelah nyadran di hari kedua selanjutnya digelar sebuah pertunjukan yakni Sinongkelan. Pertunjukan tersebut digelar di halaman yang luas karena pertunjukan tersebut digelar dengan beralaskan tikar, duduk bersila dan hanya akan berdiri pada gerakan tertentu. Pertunjukan Sinongkelan ini diikuti oleh 15-20 orang sesepuh Desa dengan tiga tokoh di dalamnya, diantranya ialah satu tokoh Kanjeng Sinongkel, satu tokoh Patih Jaksa Negara, satu tokoh Gandek atau pengawas dalam pertunjukan seta beberapa sesepuh Desa lainnya sebagai wayang atau rakyat. Pertunjukan tersebut berupa tarian yang menceritakan tentang perjuangan Kanjeng Sinongkel dalam mensejahterakan kehidupan warga Desa Prambon atau yang dulu disebut sebagai Jong biru. Kanjeng Sinongkel merupakan salah satu pembesar istana yang melarikan diri dari kerajaan dan menutupi jati dirinya dengan mengganti nama menjadi Sinongkel. Pertujukan Sinongkelan selain bertujuan untuk mengenang setiap perjuangan Kanjeng Sinongkel pertunjukan (upacara adat) ini juga mempunyi fungsi utama yang digunakan sebagai pijakan masyarakat di Desa Prambon. Maksud dan tujuan penyelenggaraan Upacara Adat Sinongkelan adalah sebagai ritual Bersih Desa, yakni membersihkan segala keburukan yang terjadi pada tahun sebelumnya dan mengucap rasa syukur kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, serta para leluhur yang telah melimpahkan berkah sehingga hasil pertanian dan kehidupan dapat lebih baik. Ritul ini bertujuan supaya hasil pertanian yang akan datang bisa lebih baik. Upacara ini juga mengajarkan kepada generasi muda untuk selalau ingat pada sejarah dan leluhurnya sehingga nilai-nilai adat dapat dipertahankan dan tidak akan hilang oleh perkembangan zaman.

  • NGETUNG BATIH

    30 Juli 2022

    “Ngetung Batih” merupakan tradisi adat istiadat di Desa Dongko yang dilaksanakan turun-temurun guna mendoakan semua anggota keluarga agar selalu diberi kekuatan, kesehatan, keselamatan, dan rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa. “Ngetung” artinya menghitung. “Batih” artinya anggota keluarga atau anggota komunitas masyarakat yang masih dianggap anggota keluarga. Jadi makna dari “Ngetung Batih” adalah menghitung jumlah anggota keluarga, termasuk diantaranya yang sudah menikah dan bertempat tinggal di luar Desa Dongko serta anggota keluarga yang sudah meninggal. Maksud dan tujuan dilaksanakannya “Ngetung Batih” oleh masyarakat Desa Dongko adalah : 1. Tasyakuran dene warsa kepengker pinaringan slamet, wilujeng lir sambekala kulawarganipun. (Merupakan bentuk ucapan syukur karena pada tahun kemarin keluarga tetap diberi keselamatan). 2. Nyenyuwun dumatheng pangayunaning Gusti Ingkang Maha Kuwaos, mugi-mugi tansah wilujeng kados wingi uni, pinaringana rejeki ingkang lumintu kangge nyekapi kulawarga. (Memohon kepada Tuhan YME agar selamat dan selalu diberikan rejeki untuk memenuhi kebutuhan keluarga) 3. Wiwit warsa enggal Jawi (Wulan Suro) sageda tansah kalis ing sambekala (slamet) (Agar mulai bulan sura ini keluarga senantiasa diberikan berkah keselamatan) Penyelenggaraan upacara “Ngetung Batih” dipimpin oleh sesepuh desa (tidak harus dukun atau Modin (Islam)), yang tugas pokoknya adalah ngujubne ambengan (mendoakan sesajian) dengan menyebutkan arti sesajian tersebut. Dalam mendoakan sesajian bisa dilaksanakan dengan cara Jawa dan cara Islam tergantung permintaan masyarakat atau diserahkan kepada sesepuh desa tersebut. Ambengan atau sesaji dalam upacara adat “Ngetung Batih” terdiri dari : Takir Plonthang, Jenang Waras, Jenang Lemu, Sekul Suci Ulam Sari (sego lodheh), Keleman (pala gumandhul, pala kesimpar, pala kependhem), sekul majemuk (sego punar) yaitu nasi kuning sak jodho. Setelah selesai didoakan tahap berikutnya kembul bojana andrawina (makan bersama) bersama segenap tamu undangan dan biasanya tamu diberi berkat (makanan) untuk dibawa pulang. Setelah tamu pulang dilakukan pemasangan Takir Plonthang di pagar rumah atau persis didepan pintu masuk (kanan/kiri) halaman rumah. Takhir Plonthang’ adalah wadah berbentuk kotak yang terbuat dari daun pisang berwarna hijau yang diikat dengan daun kelapa yang masih muda (atau disebut Janur—berwarna kuning) dengan tambahan olesan kapur warna putih dan arang warna hitam. “Takhir Plonthang” menggambarkan manusia yang merupakan makhluk yang mempunya sifat dan kodrat ‘plonthang’ atau warna-warni. Warna-warni sifat manusia dalam filsafat Jawa digambarkan oleh adanya empat sifat, yaitu: (1) Kebaikan (Mutmainah), (2) Nafsu Seksual (Supiah), (3) Sifat Serakah (Aluamah), dan (4) Angkara Murka (Amarah).