WBTB

Home / WBTB
Ditetapkan 07 Desember 2021

Sinongkelan

"Sinongkelan” merupakan tradisi adat istiadat di Desa Prambon yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan selo hari jumat legi (dalam penanggalan jawa) bersaman dengan perayaan Bersih Desa. Tradisi tersebut diadakan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat desa Prambon atas berkah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan memohon berkah supaya ditahun berikutnya Desa Prambon terbebas dari segala bencana. Rangkaian acara yang dilakukan dalam Bersih Desa Prambon yang pertama yakni, nyadran. Nyadran dimulai dari pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri atau genduren selamatan di makam leluhur. Nyadran pada ritual bersih desa Prambon tersebut dilakukan selama dua hari yang berlangsung pagi hari dan berakhir sebelum adzan dzuhur berkumandang. Sinongkela dimulai sejak dini hari utuk mempersapkan segala macam sesaji berupa lodho ayam kampung, urap-urap, nasi gurih, mule, metri, hingga jerami padi. Persiapan tersebut dilakukan oleh para wanita yang elah lanjut usia atau yang biasa disebut sebagai wanita yang telah luas ari. Setelah semua persiapan selesai selanjutnya para lelaki yang telah lanjut usia atu para sesepuh Desa memulai ritual nyadran di beberapa tempat petilasan atau tempat yang dianggap keramat. Diantaranya ialah makam mbah Budha lanang dan Mbah Budha Wedok, Mbah Canting lanang dan Mbah Canting wedok, Mbah Cokro lanang dan Mbah Cokro wedok, Bukit Slakar,dan Siraman. Malam hari setelah nyadran di hari kedua selanjutnya digelar sebuah pertunjukan yakni Sinongkelan. Pertunjukan tersebut digelar di halaman yang luas karena pertunjukan tersebut digelar dengan beralaskan tikar, duduk bersila dan hanya akan berdiri pada gerakan tertentu. Pertunjukan Sinongkelan ini diikuti oleh 15-20 orang sesepuh Desa dengan tiga tokoh di dalamnya, diantranya ialah satu tokoh Kanjeng Sinongkel, satu tokoh Patih Jaksa Negara, satu tokoh Gandek atau pengawas dalam pertunjukan seta beberapa sesepuh Desa lainnya sebagai wayang atau rakyat. Pertunjukan tersebut berupa tarian yang menceritakan tentang perjuangan Kanjeng Sinongkel dalam mensejahterakan kehidupan warga Desa Prambon atau yang dulu disebut sebagai Jong biru. Kanjeng Sinongkel merupakan salah satu pembesar istana yang melarikan diri dari kerajaan dan menutupi jati dirinya dengan mengganti nama menjadi Sinongkel. Pertujukan Sinongkelan selain bertujuan untuk mengenang setiap perjuangan Kanjeng Sinongkel pertunjukan (upacara adat) ini juga mempunyi fungsi utama yang digunakan sebagai pijakan masyarakat di Desa Prambon. Maksud dan tujuan penyelenggaraan Upacara Adat Sinongkelan adalah sebagai ritual Bersih Desa, yakni membersihkan segala keburukan yang terjadi pada tahun sebelumnya dan mengucap rasa syukur kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, serta para leluhur yang telah melimpahkan berkah sehingga hasil pertanian dan kehidupan dapat lebih baik. Ritul ini bertujuan supaya hasil pertanian yang akan datang bisa lebih baik. Upacara ini juga mengajarkan kepada generasi muda untuk selalau ingat pada sejarah dan leluhurnya sehingga nilai-nilai adat dapat dipertahankan dan tidak akan hilang oleh perkembangan zaman.